
PURWOKERTO – Ketua MPR RI, Bapak H. Ahmad Muzani, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Banyumas. Hal ini disampaikan saat beliau meninjau kawasan Ethos Digital Valley di Desa Karanggintung pada Minggu (26/4/2026).
Bapak H. Ahmad Muzani menilai kolaborasi antara potensi lokal dengan teknologi digital yang diterapkan di kawasan tersebut merupakan langkah strategis untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat desa secara berkelanjutan.
Transformasi Digital di Desa Karanggintung
Kawasan Ethos Digital Valley yang berdiri di atas lahan seluas dua hektare kini telah bertransformasi menjadi pusat industri kreatif yang vital. Tercatat, lokasi ini menaungi sekitar 1.400 pekerja kreatif, di mana 85 persen di antaranya merupakan generasi Z yang mengelola berbagai lini bisnis digital.
“Pengembangan ekonomi kreatif yang melibatkan masyarakat lokal ini sangat baik. Dalam jangka panjang, ini akan membangun kesadaran kolektif dalam memanfaatkan peluang dan teknologi demi kebaikan bersama,” ujar Ahmad Muzani usai meresmikan Papan Sedekah Sayur di kawasan tersebut.
Kolaborasi Inklusif dan Daya Saing Global
Chairman PT Ethos Kreatif Indonesia, Bapak Mukit Hendrayatno, menjelaskan bahwa Ethos Digital Valley dirancang sebagai ruang kolaborasi inklusif. Fasilitas yang tersedia mencakup gedung manajemen, pusat inkubasi teknologi, hingga pendopo bersejarah yang berfungsi sebagai ruang interaksi komunitas.
Untuk menembus pasar internasional, Ethos telah menjalin kemitraan strategis dengan platform global seperti Meta dan TikTok. Langkah ini diambil guna memperluas akses pasar bagi produk kreatif hasil talenta lokal Banyumas.
“Kami mengusung konsep ekonomi kerakyatan yang terintegrasi. Selain melibatkan petani dan peternak, kami juga menyediakan dukungan teknologi digital agar anak-anak muda di desa bisa bersaing di level internasional,” Ujar Bapak Mukit Hendrayatno.
Sinergi Profit dan Dampak Sosial
Tidak hanya fokus pada bisnis, integrasi ini juga menyentuh aspek sosial melalui program sedekah sayur yang telah menjangkau 31.000 penerima manfaat. Sinergi antara keuntungan bisnis dan dampak sosial ini diharapkan menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi warga desa di masa depan.