Jakarta — Pertumbuhan bisnis tidak hanya tentang seberapa besar perusahaan berkembang, tetapi juga tentang seberapa kuat fondasi yang menopang pertumbuhan tersebut. Prinsip inilah yang terus dibangun PT Etos Kreatif Indonesia melalui penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan atau Governance, Risk, and Compliance (GRC).
Bagi Ethos, penguatan GRC menjadi bagian dari perjalanan perusahaan dalam bertransformasi dari bisnis berskala UMKM menjadi kelompok usaha dengan sekitar 1.500 karyawan dan cakupan bisnis yang semakin luas. Ekosistem tersebut mencakup digital marketing, produk herbal, manufaktur, pergudangan, logistik, hingga distribusi nasional.
Komitmen tersebut kembali mendapat apresiasi melalui TOP GRC Awards 2026, yang menjadi salah satu momentum bagi Ethos untuk menunjukkan bagaimana tata kelola terus dikembangkan seiring dengan pertumbuhan organisasi.
Bertumbuh dengan Fondasi yang Kuat
Penguatan tata kelola di Ethos telah dikembangkan secara bertahap sejak 2020. Langkah tersebut menjadi semakin penting ketika skala bisnis dan kompleksitas organisasi terus meningkat.
Direktur Utama PT Etos Kreatif Indonesia, Lucky Hatreztyo, mengatakan bahwa pertumbuhan perusahaan perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem organisasi.
“Bagi kami, perusahaan tidak cukup hanya bertumbuh secara bisnis. Pertumbuhan harus dibangun dengan sistem yang mampu menjaga keberlanjutan, mengantisipasi risiko, dan menciptakan kepercayaan bagi seluruh stakeholder,” ujar Lucky.
Menurutnya, perjalanan membangun GRC di Ethos dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan perusahaan. Artinya, sistem tidak dibangun sekadar untuk memenuhi standar, tetapi dirancang agar benar-benar dapat digunakan dalam aktivitas organisasi sehari-hari.
Pendekatan bertahap tersebut juga menjadi penting karena Ethos berkembang dari wilayah Cilacap dan Purwokerto, dengan tantangan dalam mendapatkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus di bidang governance, risk, dan compliance.
Karena itu, penguatan GRC tidak hanya dilakukan melalui penyusunan sistem dan kebijakan, tetapi juga melalui edukasi, pelatihan, peningkatan pemahaman, serta penyederhanaan proses agar dapat diterapkan oleh seluruh bagian organisasi.
Membangun Budaya Transparansi
Salah satu fokus Ethos dalam perjalanan tata kelolanya adalah membangun budaya transparansi.
Bagi perusahaan, tata kelola yang baik tidak berhenti pada dokumen atau prosedur. Pemahaman terhadap kondisi perusahaan perlu menjadi bagian dari budaya kerja sehingga setiap individu dapat memahami peran, tanggung jawab, sekaligus kontribusinya terhadap tujuan organisasi.
“Ketika informasi dapat dipahami dengan baik dan tanggung jawab setiap fungsi jelas, rasa memiliki terhadap perusahaan juga akan tumbuh. Dari situ, tata kelola tidak lagi hanya menjadi sistem, tetapi menjadi bagian dari budaya kerja,” jelas Lucky.
Prinsip tersebut kemudian diterapkan melalui komunikasi dan koordinasi lintas fungsi yang semakin terstruktur. Berbagai isu strategis dibahas melalui rapat direksi, koordinasi rutin, serta komunikasi antarfungsi untuk memastikan potensi risiko dapat diidentifikasi dan ditindaklanjuti.
Mulai 2026, proses tersebut juga terus diperkuat melalui dokumentasi yang lebih sistematis sehingga dapat menjadi dasar evaluasi, pengukuran kinerja, serta pengambilan keputusan.
GRC untuk Mengelola Risiko Bisnis
Seiring berkembangnya bisnis, Ethos juga memperkuat pendekatan manajemen risiko agar risiko tidak hanya tercatat dalam dokumen, tetapi dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah perusahaan.
Dalam penerapannya, Ethos mengembangkan framework GRC dengan mengacu pada sejumlah standar dan referensi nasional maupun internasional, termasuk ISO 31000:2018 untuk manajemen risiko, ISO 37000:2021 mengenai tata kelola organisasi, serta ISO 37301:2021 terkait compliance management.
Perusahaan juga menerapkan pendekatan Three Lines Model, yang membagi peran pengelolaan risiko ke dalam lini bisnis sebagai pengelola risiko pertama, fungsi governance, legal, compliance dan risk management sebagai lini kedua, serta fungsi assurance independen sebagai lini ketiga.
Sejumlah perangkat pendukung juga terus dikembangkan, seperti kebijakan kepatuhan, self assessment GCG, whistleblowing system, compliance assurance system, hingga strategi anti-fraud.
Namun bagi Ethos, efektivitas sistem tersebut tetap bergantung pada bagaimana setiap bagian organisasi mampu menggunakannya dalam praktik.
“Mengetahui masalah utama perusahaan sebenarnya sudah menjadi bagian besar dari solusi. Setelah itu yang penting adalah bagaimana kita bergerak dan mengambil tindakan,” kata Lucky.
Kepatuhan Menjadi Bagian dari Menjaga Kepercayaan Konsumen
Sebagai perusahaan yang mengembangkan dan memasarkan produk herbal secara nasional, aspek kepatuhan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas sekaligus kepercayaan konsumen.
Ethos terus memperkuat fungsi legal dan compliance untuk memastikan proses bisnis berjalan sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk dalam pengembangan produk, perizinan, distribusi, serta komunikasi pemasaran.
Dalam aktivitas pemasaran produk, perusahaan juga memperhatikan ketentuan regulator, termasuk memastikan materi promosi dan klaim produk sesuai dengan regulasi yang berlaku serta menghindari praktik komunikasi yang berlebihan atau overclaim.
Di sisi lain, penguatan sistem teknologi informasi juga menjadi perhatian perusahaan, khususnya dalam mendukung keamanan data dan penerapan ketentuan terkait perlindungan data pribadi.
Menjadikan Nilai sebagai Bagian dari Tata Kelola
Penguatan tata kelola di Ethos juga tidak dilepaskan dari nilai-nilai yang menjadi identitas perusahaan.
Melalui Corporate Nawasila, nilai-nilai seperti integritas, profesionalisme, tanggung jawab, pelayanan, dan kebermanfaatan terus diterjemahkan ke dalam kehidupan organisasi.
Bagi Ethos, tata kelola yang baik pada akhirnya bukan hanya mengenai bagaimana perusahaan menjalankan bisnis dengan benar, tetapi juga bagaimana pertumbuhan tersebut memberikan manfaat yang lebih luas.
Hal tersebut tercermin melalui berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan yang dijalankan perusahaan, mulai dari kegiatan kemanusiaan, aksi lingkungan, hingga donor darah bersama berbagai pihak.
Dengan perjalanan bisnis yang terus berkembang, Ethos memandang GRC sebagai fondasi untuk memastikan perusahaan mampu tumbuh secara sehat sekaligus menjaga keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang.
“GRC bagi kami bukan tujuan akhir. Ini adalah fondasi agar perusahaan dapat terus bertumbuh, semakin profesional, dan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutup Lucky.